Of Mice and Men (sinopsis dan transkrip)

 


  (Jika video tidak tampil, silakan klik  https://youtu.be/ueKMM1EY__0 )

 

Halo Sobat buku. Kali ini saya akan membahas sedikit tentang Of Mice and Men karya John Steinbeck.


Sinopsis

Di sebuah kolam George dan Lennie berhenti. Mereka dalam perjalanan menuju sebuah pertanian. Kedua pria ini sangat berbeda dari segi penampilan karena George bertubuh lebih kecil daripada Lennie. Namun, dia sangat pintar, sementara Lennie memiliki disabilitas mental. Sambil beristirahat, George mengingatkan Lennie jika terlibat masalah, Lennie harus kembali ke kolam ini dan menunggu dirinya. Selanjutnya mereka berbincang tentang impian memiliki pertanian atau peternakan sendiri.

Di hari berikutnya mereka tiba di peternakan yang dijalankan oleh Curley tua dan anaknya, Curley muda. Agar diterima, George berbohong bahwa dia dan Lennie bersaudara. Mereka kemudian bertemu pekerja lain yaitu Candy dan Slim.

Istri Curley muda di waktu berbeda menemui George dan Lennie. Karena kelihatan genit, George meminta Lennie menghindarinya. 

Ketika ngobrol dengan Slim, George mengaku sebenarnya dia dan Lennie bukan saudara, tetapi teman. Mereka harus pindah dari pekerjaan sebelumnya karena Lennie dituduh memperkosa seorang perempuan. Sebenarnya Lennie hanya ingin menyentuh baju lembut yang dipakai perempuan itu. Dia memang menyukai segala benda yang lembut. 

Di waktu lain, Candy tidak sengaja mendengar obrolan tentang peternakan impian George dan Lennie. Dia pun bergabung dan mereka berjanji akan merahasiakannya. 

Di lain hari ketika para pekerja diperbolehkan bepergian, Lennie tidak sengaja membunuh anak anjing pemberian Slim. Lennie memang sulit mengontrol tenaganya sehingga sudah berkali-kali membunuh kelinci dan tikus peliharaannya. Tanpa dia sadari, istri Curley masuk dan mencoba berbincang. Mengetahui kecelakaan itu, dia mencoba menghibur Lennie. 

Dia mengakui hidupnya dengan Curley mengecewakan dan sebenarnya ingin jadi bintang film. Lennie mengakui suka mengelus benda-benda yang lembut.  Jadi, perempuan itu menawarkan Lennie untuk menyentuh rambutnya. Lennie menariknya terlalu keras dan menyebabkan istri Curley panik. Karena Lennie ikut panik, dia membekap dan membuat perempuan itu tewas. Sadar dirinya membuat masalah, Lennie lari ke kolam.

Tak lama kemudian, para pekerja kembali. Curley muda sangat marah mengetahui istrinya tewas dan merancang pencarian. George dilibatkan. Namun, dia berhasil sampai di kolam sebelum rombongan Curley tiba. Di sana dia bertemu Lennie. Mereka berbicara tentang impian mereka lagi. Namun, diam-diam George mengarahkan pistol dan menembak Lennie. 


Analisis

Novela karya John Steinbeck ini pertama kali terbit tahun 1937 yang kemudian dianggap sebagai buku kontroversial  karena dituduh penuh kekerasan, kata-kata kasar, vulgar, dan antibisnis. Sekurang-kurangnya buku tipis ini telah 54 kali diajukan untuk disensor. Ceritanya sendiri berlatar Amerika di masa Depresi Besar, tepatnya di California, yang sarat pekerja migran pertanian.

 

Tema

“Orang-orang seperti kita, yang bekerja di peternakan, adalah orang-orang paling kesepian di dunia.” -- George (halaman 23)

Kesepian adalah tema utamanya. Kehidupan pekerja migran biasanya jauh dari perkotaan dan terisolasi. Slim, istri Curley, Candy, mereka mengaku kesepian.

Kedua tentang impian. George, Lennie, Candy, Slim, istri Curley memiliki impian masing-masing yang gagal ataupun mustahil. 

Ketiga, masalah Kekuasaan. Sebagai anak pemilik peternakan, Curley muda sangat arogan.  

Keempat, setiap orang predator bagi orang lain. Lennie membunuh istri Curley. George membunuh Lennie. Curley junior mati-matian mau membunuh Lennie. Ini semua menunjukkan bagaimana sifat alami manusia baik karena situasi, justifikasi, maupun keadilan.

Tema lainnya adalah tentang kentalnya  persaudaraan para pria yang digambarkan oleh George dan Lennie. 

 

Penokohan

Menurut saya, dinamika hubungan George dan Lennie sangat menarik. Dialog di antara mereka sering menggunakan kalimat yang diulang-ulang dan ini sebenarnya permainan kata yang menarik. Selain itu dialog mereka umumnya pendek-pendek. Ini tentu agar Lennie lebih memahami pembicaraan.

Tokoh lain yang menurut saya menarik adalah istri Curley muda. Tokoh ini seolah-olah perayu dan tak punya otak. Padahal hidupnya penuh sandiwara dan sebenarnya cerdas. 


Dilema moral

“Lepaskan topimu, Lennie. Anginnya sejuk.” -- George (halaman 140)

Tragedi cerita ini terletak pada bagaimana George membunuh Lennie. Ini bukan karena George ingin, tetapi karena situasinya. Daripada Lennie dibunuh geng Curley muda, lebih baik dia yang membunuh tanpa membuat Lennie kesakitan. 

Tapi, apakah secara moral ini benar? Tentu pembacalah yang harus memutuskan. 


Protes

Of Mice and Men merupakan protes sosial terhadap ketidakadilan yang diterima kelas pekerja dan orang-orang yang tidak punya kekuasaan ekonomi. Lennie dan George mewakili mereka, sementara Curley tua dan muda mewakili kapitalisme. 

Jadi, mengapa kamu perlu membaca buku ini?

Hal pertama yang menarik dari buku ini adalah tokoh-tokohnya yang realistis. Semasa remaja Steinbeck yang memang tinggal di California, sering membantu di peternakan sehingga dia memahami betul kehidupan kelas pekerja. Selain itu tokoh-tokohnya juga tidak sempurna. Hal ini semakin mendekatkan cerita pada realitas. 

Karena bentuknya novela, buku ini hanya terdiri dari sekitar 30.000 kata dalam bahasa Inggris. Versi terbitan Indonesia hanya terdiri dari 143 halaman. Gak tebal, kan?

Of Mice and Men memicu penulis lain untuk menulis novel protes sosial. Gerakan sastra ini mempunyai pengaruh yang cukup penting pada masa tersebut. Dan sampai sekarang, novela dan novel yang mengandung protes sosial tetap ditulis oleh sastrawan dan dramawan.

Setelah terbit sebagai buku, Steinbeck kemudian mengadaptasikannya sebagai drama tiga babak pada tahun 1937. 

Demikianlah sinopsis dan analisis Of Mice and Men. Selamat membaca dan sampai bertemu pada analisis lainnya.


Narasumber:

https://www.youtube.com/watch?v=BQtiStdDaYw

https://www.sparknotes.com/lit/micemen/summary/

Britannica, The Editors of Encyclopaedia. "Of Mice and Men". Encyclopedia Britannica, Invalid Date,
https://www.britannica.com/topic/Of-Mice-and-Men-by-Steinbeck. Accessed 20 August 2021

SparkNotes Editors. “SparkNotes: Of Mice and Men.” SparkNotes.com, SparkNotes LLC, 2005,
https://www.sparknotes.com/lit/micemen

Wikipedia. "Of Mice and Men"
https://en.wikipedia.org/wiki/Of_Mice_and_Men#Themes

Satire: Arti, Jenis, dan Contoh

 

 


Artikel ini melengkapi versi singkat di Youtube:


 (Jika video tidak tampil, gunakan link ini: https://youtu.be/qL-JXj73Fto)

 

Definisi

Menurut Encyclopedia Britannica, satire merupakan bentuk artistik, terutama dalam sastra dan drama, yang mana kejahatan, kebodohan, 

penyalahgunaan, atau kekurangan manusia 

atau individu diangkat untuk DIKECAM dengan 

ejekan, ironi, parodi, karikatur, atau metode lain, 

kadang-kadang dengan niat untuk MENGILHAMI REFORMASI SOSIAL.

 


Satire sebagai Genre

Sebagai genre, satire berisi ironi, humor, atau ejekan yang digunakan untuk MENGKRITIK dan MENGEKSPOS kekurangan dalam sifat dan perilaku manusia.


Satire sering kali lucu, tetapi tidak harus. Dia juga tidak sama dengan parodi.


Satire sebagai Alat Sastra

Sebagai perangkat sastra, satire sering digunakan untuk mengkritik politik dan isu-isu topikal.


Brave New World (Aldous Huxley) adalah contoh sastra yang terkenal. Huxley menyindir sebagian besar konvensi (permufakatan) dan institusi sosial yang dianggap suci dan dicintai oleh masyarakat Barat yang "maju".  Termasuk di dalamnya adalah soal agama, monogami, dan kesetaraan sosial. Dalam novel ini, konvensi dan institusi itu dijungkirbalikkan sampai-sampai tokohnya menganut seks bebas dan memakai narkoba, termasuk satire terhadap pemisahan kelas sosial dan kontrol pemerintah. Huxley menyindir masyarakat kontemporer untuk memaparkan kepada pembaca tentang struktur moral yang sewenang-wenang dan sering kali munafik.


Medium

Termasuk literatur, film, dan musik. Bentuk lainnya adalah kartun/komik politik, puisi, bahkan seni visual.


Tujuan

Untuk MENGHIBUR penonton dan membuat mereka BERPIKIR LEBIH tentang suatu subjek.


Jenis Satire

Menurut Kyle DeGuzman, ada tiga jenis satire.

1. Horatian Satire

Memakai humor untuk mengolok orang atau kejadian dengan cara yang lucu.

Contoh: acara TV 'Saturday Night Live'


2. Juvenalian Satire

Lebih serius dan gelap daripada Horatian, sering dipakai untuk mengekspresikan kemarahan.

Biasanya dipakai dalam fiksi distopia.

Contoh: Animal Farm dan Fahrenheit 451


3. Menippean Satire

Satire yang mengkritik sistem kepercayaan umum

ketimbang seseorang atau individu.

Contoh: South Park


Contoh Cuplikan Satire

The Devil’s Dictionary oleh Ambrose Bierce adalah kumpulan definisi satire yang pedas.  Banyak menyoroti gagasan yang dianggap penting oleh masyarakat, seperti doa, pernikahan, dan persahabatan;  semua digambarkan dalam humor yang gelap.  Beberapa contoh isinya:

Cinta, kata benda.  Kegilaan sementara yang dapat disembuhkan dengan pernikahan.

dan

Sabar, kata benda.  Sebuah bentuk kecil dari keputusasaan, menyamar sebagai kebajikan.

Contoh Karya

- The Invisible Man (Ralph Ellison)

- Slaughterhouse-Five (Kurt Vonnegut)

- The Importance of Being Earnest (sandiwara satire tentang norma budaya cinta dan pernikahan di masa Victorian, oleh Oscar Wilde)

- Family Guy (serial kartun yang menampilkan satire soal masyarakat sosial menengah Amerika)

- Shrek (film kartun dengan satire terhadap dongeng)

- Deadpool (film yang memberi satire terhadap superhero)

- The Office (seri komedi yang menyelipkan satire tentang budaya kerja dalam perusahaan)

- Gangnam Style (lagu ini merupakan satire gaya hidup orang kaya di Korsel)


Narasumber

DeGuzman, Kyle. "What is Satire — 3 Types of Satire Every Storyteller Should Know". Studio Binder, 25 Juli 2021.

https://www.studiobinder.com/blog/what-is-satire-definition-examples/. Akses 12 Agustus 2021.


Elliott, Robert C.. "Satire". Encyclopedia Britannica, Invalid Date, 

https://www.britannica.com/art/satire. Akses 12 Agustus 2021.


"Satire". Literary Device, invalid date,

https://literarydevices.net/satire/. Akses 12 Agustus 2021


"Satire". Literary Terms, invalid date,

https://literaryterms.net/satire/. Akses 13 Agustus 2021



Mengapa Kamu Perlu Menonton Film Independen



Salah satu cara mendapat ide-ide cerita menarik dan seksi adalah menonton film independen. Terutama, cari film pendek. Film pendek independen punya taruhan yang besar: karena pendek, efeknya buat penonton harus besar. Semakin pendek durasinya, semakin besar impact yang harus dirasakan penonton.

Kedua, film independen menawarkan cerita dan tema yang biasanya lebih masuk akal ketimbang Hollywood. Prinsipnya, Hollywood itu jual mimpi Amerika. Jadi, yang dibutuhkan adalah tampilan 'prop' yang megah, baik fisik maupun digital. Itu sebabnya film-film Hollywood kebanyakan berasa artifisial. Hanya sedikit penulis/sutradara Hollywood yang punya idealisme.


Kalau kukuh maunya film Hollywood, tontonlah film keluaran tahun 70-an. Film di era ini ceritanya cerdas. Apalagi ada geng 5 sutradara pemberontak yang mengobrak-abrik gaya Hollywood saat itu (Coppola, Lucas, Scorsese, Spielberg, dan De Palma). Kubrick dan Woody Allen bukan gengnya mereka, tapi termasuk yang berpengaruh besar. Contoh film pada era ini: Taxi Driver, The Deer Hunter, The Godfather, Apocalypse Now, Kramer vs. Kramer, Rocky, Network, Annie Hall, dan The Sting.


Sutradara film Hollywood yang cukup seksi, sporadis tersebar di era 90 sampai pertengahan 2000. Sebut saja Spike Jonze, Spike Lee, Quentin Tarantino, dan Sofia Coppola. Jujur nih, 10 tahun terakhir saya tidak merasa ada yang sungguh wow dan hanya 1 sutradara yang menarik perhatian saya: Jordan Peele. Empat sutradara ini punya gaya dan visi yang jelas. Film-film mereka punya rasa film indie.


Film indie menawarkan hal yang sama: visi dan gaya. Bedanya, biasanya dari segi dana lebih kecil. Dan inilah kenapa film independen menarik: keterbatasan membuat orang jadi kreatif. 


Film (dan cerita yang bagus) bukan karena efek yang wah. Yang minimalis sering kali lebih punya efek wah.


Beberapa film indie yang tergolong pendek bisa ditonton di Youtube. Film-film yang saya rekomendasikan ini memiliki plot twist, alur, warna, simbolisme yang menarik. Berikut 5 di antaranya:

1. The English Teacher

Cerita tentang guru bahasa Inggris yang mengajar orang asing. Ending yang sangat menarik.


2. The Silent Child (Pemenang Oscar)

Menceritakan tentang sebuah keluarga yang anak bungsunya tunawicara dan tidak mendapatkan pendidikan dan perhatian yang layak


Dua orang yang tak saling kenal bertemu beberapa kali dengan takdir yang tak terduga.

4. Coin Operated (animasi)
Biar durasinya pendek, film anak-anak ini sangat menarik.

5. Snack Attack (animasi)
Berdurasi pendek, film ini menceritakan bagaimana seorang nenek marah pada anak punk yang memakan biskuitnya. Namun, apa hanya itu masalahnya?

Legenda - arti dan contoh

 


Video ini membahas legenda dari segi arti, penggunaan, dan contohnya. Ini merupakan video lanjutan dari pembahasan soal mite.

Ada perbedaan tipis antara mite dan legenda. Meski sama-sama cerita yang diyakini kebenarannya dan bersifat kolektif, mite didominasi makhluk suci, sedangkan legenda diisi oleh manusia biasa yang seringkali mendapat bantuan dari makhluk gaib atau yang memiliki kekuatan tertentu. 

 Misalnya, saya merasa naga dan burung pheonix lebih masuk ke mite karena unsur religius atau sosialnya besar dalam budaya Cina. Sementara itu, monster Loch Ness tidak memberi dampak religius selain keingintahuan apakah makhluk itu benar ada atau tidak. 

Semoga penjelasan tambahan di sini membantu memahami mite dan legenda.

Kelemahan Novel Online Masa Kini

 


 Tulisan ini merupakan opini saya dari sebuah pertanyaan di Quora tentang kelemahan novel Indonesia di Wattpad atau media lainnya. Sebagai kenang-kenangan dan arsip, jawaban saya atas sebuah pertanyaan akan saya pos di blog.

Saya tambahkan dari yang sudah ada:

  1. Pengarang jumawa yang kalau dikritik bisa ngamuk atau fans-nya (saya lebih suka menyebut 'dayang-dayang') yang maju perang. "Pokoknya cerita saya sudah sempurna" atau malah defensif: "Kan, saya masih pemula". Kritik masih dianggap tabu dan menjatuhkan. 
  2. Kemampuan berpikir kreatif yang masih anjlok. Cerita satu pengarang mirip-mirip dengan yang lain, serasa baca fotokopian. Apa yang lagi tren ditiru. Yang penting instan terkenal. Akhirnya cerita biasa saja.
  3. Karena mengharap yang serba instan, isi bukan prioritas. Tulisan berantakan, PUEBI nol, logika jongkok tidak mengapa. Yang penting dibaca 15 juta kali.
  4. Usia 13 - 15 tahun sudah jago bikin cerita selengkengen. Bahkan tidak malu-malu bikin promo di grup-grup di FB. Namanya cerita selengkengan ya jangan harap ada kualitasnya. Itu pun saya dengar banyak diterbitkan oleh penerbitan, meski bagian lendirannya dibuang.
  5. Untuk yang sudah berumur sama saja, nulis cerita selengkengan berbalut malam pertama, pelakoran, perkosaan, inses, dan sejenisnya. Ini biasanya di grup emak-emak menulis.
  6. Cerita superklise yang dimulai dengan bangun tidur, hari pertama sekolah, tabrakan terus jadi suka. Atau super-salah kaprah seperti psikopat bucin, CEO yang kerjanya cuma ngurusin sekretarisnya (gak jelas perusahaannya di bidang apa, tidak pernah ada jargon ekonomi, yang penting perutnya ada 12 roti deret).
  7. Selera pembaca yang ingin cerita yang ringan, bahkan pernah saya lihat meminta cerita minim (atau bahkan tanpa) konflik. Jadi tidak ada bedanya dengan sinetron televisi dengan target penonton gak mau mikir dan bisa sambil menyetrika.

Dengan tren dan keinginan seperti di atas, ya jangan mengharap cerita di Wattpad (dan beberapa aplikasi yang terkenal dengan iklan berbau perlendiran) bagus. Ini berbeda dengan sistem di Storial, Kwikku, atau Cabaca yang memang didampingi editor (beneran). Tidak adanya kontrol membuat orang bebas menulis apa saja dan karena budaya instan, jauh lebih penting eksistensi ketimbang kualitas. Plus ketidakbolehan untuk dikritik membuat pengarang hidup dalam tempurungnya.

 

Itu jawaban saya yang hanya melengkapi jawaban-jawaban yang sudah masuk. Saya tidak bilang cerita di Wattpad jelek semua. Namun, inilah wajah mayoritas kualitas tulisan di Wattpad: tema seragam, isi fotokopian, ketidakmampuan berpikir logis dan kreatif, mengutamakan eksistensi sehingga urusan moral (dan hukum) nanti saja dipikirkan. Yang penting dibaca 15 juta kali, kan?

Punya opini sendiri? Boleh tulis di kolom komentar.

Mite atau Mitos

 



 Video terbaru membahas soal mite atau lebih dikenal sebagai mitos. Ini merupakan perkenalan singkat dari definisi, manfaat, dan contoh. Semoga membantu teman-teman dalam menulis.

Karya-karya besar banyak terpengaruh oleh mitos, termasuk Shakespeare memanfaatnya dengan baik dalam Macbeth. Film The Lighthouse secara masif juga memanfaatkan mitos dan mitologi. Artinya, menggunakan, membuat interpretasi baru, atau menceritakan versi baru sebuah mitos dapat dilakukan oleh pengarang. 

Selamat menikmati video ini.

Logika Bahasa dan Logika Cerita

 


SAYA MAKAN ADIK TIDUR 

Semua pengarang harus tahu, hal penting dalam tulisan mereka adalah isinya. Mulai dari penokohan sampai bagaimana cerita berakhir, itu yang utama.

Sedikit orang tahu, kalau saya membalik kebutuhan mana yang lebih penting. Saya selalu memulai dari kemampuan berbahasa. Simpelnya, semua orang bisa baca tulis, tetapi belum tentu memahami isinya, bahkan belum tentu memahami logikanya.

Seperti kalimat pembuka di atas yang bisa multitafsir. Apakah saya makan adik yang sedang tidur? Apakah saya makan adik sambil tidur atau lalu tidur? Atau saya makan ketika adik tidur? Bagaimana jika kalimatnya: 'Makan adik saya tidur'? Kalimat-kalimar tersebut menjadi gamang dalam pemahaman.

Logika Bahasa dan Logika Cerita

Sebuah kata bisa menentukan seluruh cerita. Satu kata salah ditempatkan bisa merusak makna. Bahkan tidak adanya tanda koma bisa membuat orang bingung, seperti contoh di atas.

Keterampilan berbahasa tidak didapat dalam sekali belajar. Itu sebabnya latihan itu penting. Banyak membaca perlu bukan hanya untuk menambah wawasan, tetapi juga membiasakan diri dengan pola-pola kalimat. Tentu, bacaannya yang terseleksi, ya.

Logika cerita juga berkaitan dengan logika bahasa. Contoh: Para ibu berdiri di sana.
Dari sini kita tahu ada lebih dari satu ibu. Kalau kita tulis 'Ibu berdiri di sana', lebih mungkin ini hanya satu orang.

Bagaimana dengan 'Para ibu berdesakan menonton ayam sabung'? Meski kalimat ini secara struktur sudah oke, tetapi logikanya tidak terlalu tepat. Biasanya para pria yang menonton. Jadi, apakah ini salah ketik atau disengaja? Kita tidak tahu tanpa adanya teks lanjutan. Mungkin saja cerita ini tentang kaum mak-emak yang gemar judi sabung. Barangkali pengarang memang sengaja membuka kalimat dengan cara ini untuk menggelitik pikiran pembaca.

Namun, banyak juga pembaca yang tidak awas. Berita hoaks, misalnya. Mudah sekali menipu pembaca yang tidak menggerakkan logika kebahasaannya. Padahal, ada banyak petunjuk dalam teks tersebut yang bisa diuji kebenarannya.

Logika Waktu, Tempat, dan Penokohan

Kalau saya diminta mengecek cerita, biasanya mudah sekali saya mengendus kesalahan pengarang. Logika yang cacat itu biasanya datang dari logika waktu, logika tempat, logika karakterisasi, sampai logika umum. Misalnya, tokoh yang sakit di kantor lantai 30, bisa langsung didatangi dokter dalam waktu 5 menit. Daei segi lokasi, kalau dokternya lain gedung juga gak mungkin, ya. Ini logika lokasi. Contoh logika waktu: si A tinggal di Jakarta, si D di Bogor. Tengah malam ke Jakarta cuma 10 menit. Ya, sesepi-sepi Jakarta, gak mungkin juga naik motor bisa secepat itu. Logika karakterisasi itu misalnya inkonsistensi penokohan. Si A katanya tidak suka makan pedas, di tengah cerita makan pedas tanpa keluhan. Ini kan tidak masuk akal. Logika umum itu contohnya si A punya restoran dan ketika ada barang masuk tidak sesuai, langsung marah dan bahan tadi dibanting-banting. Ini tidak pas logikanya. Seolah-olah bahan tersebut tidak bisa dibuang tanpa perlu bersikap dramatis. Logika lain yang tidak nyambung: kok bisa bahan itu masuk? Biasanya restoran punya S.O.P dan suplier yang jelas. Nah, kelihatan di sini ada dua hal yang jadi masalah.

Logika Cerita

Namun, ada hal yang gak masuk akal dan dibiarkan dalam cerita. Ini saya sebut logika cerita. Contohnya dalam film Reservoir Dogs, tokoh yang sudah tertembak dan mengalami pendarahan hebat masih hidup berjam-jam (sempat pingsan juga). Atau John Wick diserang ribuan orang masih menang. Ini memang logika cerita yang ngaco, tetapi sedikit masih bisa dimaafkan. Dalam kedua contoh di atas, masing-masing punya tujuan mengapa tokohnya belum mati juga karena setup cerita yang membuat kisahnya 'bisa menerima kejanggalan ini'.

Sebagai tandingan, ada juga cerita yang sangat realistis (meski kategorinya cerita fantasi) seperti Game of Thrones. Dalam cerita ini, penonton pasti berharap Ed Stark tidak mati, diselamatkan dari hukum penggal. Kenyataannya, tidak ada yang menolong Ed. Dalam dunia nyata, banyak kasus seperti ini. Contoh lainnya adalah film Contagion yang hampir seperti prediksi wabah. Memang film ini ditopang ilmuwan PBB yang menjadi narasumber dan tentu tidak semua hal dalam cerita itu logis, tetapi masih bisa diterima akal sebagai bagian dari logika cerita. Prediksi tentang politik dan vaksin, juga kekisruhan borong belanja sudah terbukti.

Jadi, jangan sepelekan bahasa karena logika sering datang dari sebuah kata, tiap kata membentuk kalimat, dan tiap kalimat pada akhirnya membentuk cerita.

Per-bully-an: Antara Fiksi dan Fakta

 


Beberapa bulan yang lalu saya mengadakan riset kecil-kecilan tentang bully (perundungan) sebagai stereotip dalam cerita remaja. Dari situ saya mendapat banyak masukan. Ketimbang menjawab dari sisi fiksi, lebih banyak yang cerita bagaimana perundungan yang terjadi di sekitar responden. 

Untuk memudahkan, saya akan bagi pembahasannya jadi dua bagian. Dari segi fiksi dan fakta lapangan.

Fiksi

Meski kebanyakan cerita fiksi terbit profesional, banyak remaja yang sekarang menulis cerita di platform seperti Wattpad. Komunitas yang menjadi sasaran tanya saya juga komunitas penulis dan pembaca Wattpad (Forum Wattpader Indonesia) dengan respon dari usia remaja hingga dewasa. 

Dari tanggapan mereka, rasanya kebanyakan cerita remaja menggambarkan perundungan dilakukan oleh 
-remaja yang cantik atau ganteng
-populer dan atau kaya
-biasanya tidak sendirian, memiliki geng.
-di dalam geng itu biasanya si 'bos' yang aktif merundung. Yang lain ikut-ikutan.
-bad boy atau bad girl, tetapi tidak sesuai dengan definisi bad boy yang sebenarnya.
-anak donatur sekolah atau anak pejabat
-ada pembaca yang merasa bahwa tokoh perundung dihadirkan hanya demi membuat konflik dan agar pembaca bersimpati pada tokoh yang dirundung
-bertubuh kekar (cowok)
-perundung cewek cenderung ke body shaming
-pelaku orang yang cerdas (misalnya juara olimpiade matematika) 
-queen bee dan atau pintar dandan
-pelaku adalah kakak kelas (cewek atau cowok) 

Saya rasa, tanggapan dari Dian Fajarianto perlu saya kutip di sini:
"Taktik bully-annya banyak sih. Tapi secara garis besar ada yang main fisik, main verbal, dan make trik psikologis (mengucilkan, nge-prank, ngejebak, dan apa pun yang bisa menghancurkan harga diri korban). Pem-bully cowok biasanya suka main fisik/kekerasan. Tipe yang sering dipake itu Jerk Jock (anak tim olahraga yang songongnya bukan main, apalagi mereka punya keunggulan fisik dibanding tokoh lain).

"Pem-bully cewek biasanya pake taktik verbal. Ngata-ngatain, bikin target merasa bersalah meski nggak tau salahnya apa, dan menjelek-jelekkan apa pun dalam diri korban yang tak disukai pelaku. 

"Kedua tipe pem-bully itu, kalo populer, juga bisa pake taktik psikologis nonverbal kayak menghasut orang banyak buat mengucilkan korban, atau bikin korban nggak nyaman di kelas/sekolah (gaslighting). Taktik ini yang paling berbahaya sebenarnya. Karena susah membuktikannya daripada bullying fisik dan verbal (fisik bisa aja ada bekasnya, ucapan bisa direkam atau screenshot, kalo itu cyberbullying). Parahnya kalo orang-orang udah merasionalisasikan tindakan mereka dan berpikir bahwa pelaku memang benar, menganggap korban pantas di-bully, bahkan orang yang gak ada kaitannya pun bisa ikut nge-bully.

"Karena ketiadaan bukti itu, biasanya guru/ortu lepas tangan dan menganggap, "Ah, cuma candaan biasa". Perlu kepekaan memang, tapi orang yang peka bakal dicap baperan, gak ngerti lelucon, dan bisa jadi korban berikutnya. Gitu aja terus sampai tau-tau ada yang wafat."

 

Fakta

Sedikit terkejut saya mendapati bahwa di dunia nyata, perundungan masih mirip-mirip dengan versi buku, tetapi variannya lebih luas.
-remaja cantik atau ganteng, tetapi bisa juga dilakukan oleh mereka yang tampangnya biasa saja
-merasa cantik atau ganteng, merasa populer, termasuk merasa pintar, kaya, dll.
-populer atau kaya tidak selalu jadi patokan. Sering juga pelaku adalah dari kelompok ekonomi menengah ke bawah. Yang kaya jadi korban palakan dan yang miskin dirundung secara fisik.
-tergantung situasinya, perundung bisa saja sendirian atau berkelompok. Kadang di dalam kelompok itu ada kelompok yang lebih kecil lagi.
-sindir-menyindir dan bersikap dramatis (cewek)
-tidak tertutup kemungkinan bahwa pelaku anak yang pintar dan berprestasi. 
-pelaku bisa jadi kakak kelas.
-bentuk perundungan bisa fisik maupun verbal.
-memiliki benda tertentu (misalnya motor) sehingga merasa hebat
-orang atau kelompok yang dianggap berbeda dianggap sebagai musuh.

Menyikapi

Cukup menarik bahwa fiksi dan fakta sepertinya saling silang. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi saya sendiri: apakah ini bentuk life imitates art atau art imitates life?

Hal yang tadinya saya anggap fiksi yang bombastis, ternyata ada dalam dunia nyata. Kalau saya pikir-pikir, banyak memang, kasus perundungan fisik yang mengerikan di dunia nyata. Tidak sedikit korban perundungan yang tewas akibat kekerasan tersebut. Begitu pun dampak psikis kepada korban, yang jika terlalu dalam sakitnya, bisa membuat mereka memutuskan bunuh diri. 

Harapan

Saya sengaja tidak menulis soal mengapa orang melakukan perundungan. Saya pikir, tugas penulis adalah mencari tahu hal itu sendiri. Yang menjadi perhatian saya adalah 
-apakah penulis yang masih remaja menganggap merundung sebagai hal yang biasa?
-apakah penulis yang masih remaja mampu memasukkan nilai moral ke dalam cerita?
-apakah penulis-penulis belia ini memahami secara serius dampak psikologis dari perundungan?

Saya harap cerita berbasis perundungan bukan demi keren-kerenan cerita. Hal ini tentu mudah dipahami oleh penulis dewasa yang menulis cerita remaja. Bagaimana dengan penulis remaja yang cara berpikirnya belum mendalam? 

--- Catatan: Terima kasih untuk FWI dan anggotanya yang telah memberi respon positif untuk pertanyaan saya.

Perlukah Cast dalam Fiksi?

 


Saya memang tidak suka cerita dengan cast.

Pertama karena kesannya si penulis 'malas' mikir. Kesannya, lho.

Kedua, karena risiko tinggi bagi yang dijadikan cast. Misalnya dijadikan objek fantasi seksual atau pelecehan. Pernah saya lihat beberapa bulan lalu ada remaja cewek yang memberi komen di postingan si seleb bahwa dia ingin melihat si cast ini telanjang. Mengerikan.

Ketiga, rawan pencemaran nama baik. Kalau cast-nya dijadikan tokoh baik-baik atau sehat-sehat saja, mungkin masih gak masalah. Kalau ditulis kena Ebola kan berabe. Bisa bikin geger. Atau kalau dibuat selingkuh, kan bisa dikira itu beneran.

Keempat, rawan jerat hukum. Kalau si seleb gak nyaman dengan apa yang ditulis, bisa saja dia menuntut. Bisa jadi, meski ceritanya baik, si seleb menuntut karena merasa tidak pernah mengizinkan namanya dipakai. Satu lagi, andaikan kalian mendapat keuntungan (royalti dan bentuk finansial lain) dengan memakai si dia sebagai cast, sementara dia tidak dapat apa-apa, itu bisa jadi masalah hukum. Kalau kalian kaya raya bisa bayar pengacara, ya silakan aja lanjut. Kalau gak, mending pikir sejuta kali.

Ada situasi-situasi lain yang perlu dipertimbangkan. Misalnya reaksi media sosial. Jangan sampai sebagai pengarang kalian dirundung atau dilaporkan oleh pihak ketiga. Ujung-ujungnya kan masalah hukum. Pertimbangkan juga bahwa netizen Indonesia belum banyak yang belum 'cerdas' dalam menanggapi cerita fiksi. Banyak pembaca yang menganggap fiksi itu sungguhan. Fiksi pelakoran saja dianggap kejadian nyata. Bisa-bisa mereka akan berpikir bahwa kelakuan cast memang seperti di dalam cerita.

Buat saya, menjadikan seleb sebagai cast cukup di dalam otak pengarang saja. Jangan kasih tahu pembaca. Ini rahasia kecil yang menyenangkan. Saya selalu berprinsip: biarkan pembaca memiliki imajinasi sendiri seperti apa atau seperti siapa si tokoh dalam cerita. Lagian, seneng amat sih kelien ngatur-ngatur?

Resensi: Rengkuh

 


Judul: Rengkuh
Pengarang: Susi Nurkhofsyah
Penerbit: Laksana/Diva Press
Halaman: 286
Cetakan: pertama, 2020


Cerita Rengkuh mengambil latar di perkampungan dengan kesulitan ekonomi yang harus diatasi tokoh-tokohnya. Radif, tokoh utamanya, seorang anak yang cuek, yang lebih senang bermain ketimbang belajar. Ini sangat berbeda dengan Ratna yang sangat senang membaca, cerdas, dan kritis. Mereka berteman sejak kecil, tepatnya sejak Ratna dan kakak-kakaknya dititipkan ke rumah nenek mereka. 


Ratna sendiri mengagumi ibu Radif yang bisa membiayai dirinya sekolah. Apa yang dilakukan ibu Radif membuat Ratna punya tekad untuk bekerja ke luar negeri, tepatnya menjadi TKW.


Sementara itu Radif akhirnya memutuskan bekerja dengan kehidupan yang tidak begitu layak. Akhirnya dia memutuskan untuk 'tobat', menyelesaikan sekolah, lalu kembali bekerja sambil kuliah. Dia kemudian bertemu seorang perempuan yang kelak dinikahinya.


Problem Pedesaan

Sebagai orang kota, saya tidak dekat dengan problem orang di pedesaan. Saya jelas tidak akan bisa membayangkan kehidupan yang miskin, yan sebenarnya itu seperti apa. Tetangga nyinyir, biang gosip, dan berita yang mudah tersebar barangkali bukan hal yang terlalu asing, tetapi bagaimana pola pikir kehidupan di desa, bagaimana ekonomi diputar, jelas menarik untuk dibaca. 

Rengkuh memiliki hal tersebut. Detail cerita bekerja sebagai TKW (dan tenaga kerja pria) di luar negeri, misalnya, sangat detail. Orang awam mungkin hanya menganggap dan menjadi pembantu/asisten rumah tangga di luar negeri ya tinggal berangkat dengan pelatihan ini dan itu. Ternyata banyak aspek yang perlu diperhatikan, termasuk soal hukum. 

Beberapa bulan setelah membaca Rengkuh, saya mendapati berita David vs. Goliath antara TKW dan seorang taipan di Singapura, yang sempat menjadi isu penting. Menarik bahwa proses hukum dan apa yang terjadi dalam Rengkuh, selaras dengan kehidupan nyata. Berita tersebut bisa dibaca di https://www.bbc.com/indonesia/dunia-54241517

 

Sudut Pandang

Dari segi cerita, saya rasa sudah cukup baik. Sebagian besar sudut pandang dari tokoh Radif, menggunakan 'aku' sehingga terasa sangat personal. Setelah lebih dari setengah, baru ada sisi dari Ratna, juga menggunakan 'aku'.

Kritik saya, karena cerita memakai narasi 'aku', tetapi judul bab pakai angka, terjadi kerancuan. Pembaca masih mengira ini cerita dari Radif, ternyata pindah ke Ratna. Apalagi karena dari awal semuanya narasi Radif. Pembaca seperti tidak diberi tanda-tanda. Jadi, ke depannya saya harap ada pemisahan yang jelas antarbab, misalnya dengan menjadikan nama tokoh sebagai judul, jika menggunakan beberapa sudut pandang dalam cerita.

Selebihnya, lebih baik langsung beli sendiri untuk kepuasan membaca sendiri.

Lisensi Puitika (Licentia Poetica) - Transkrip

 


 

Lisensi puitika disebut juga licentia poetica (Latin) atau poetic licence (Inggris).


Artinya kebebasan penyair dalam melakukan penyimpangan terhadap bahasa. 


Tujuannya untuk memperbarui bahasa.


Praktiknya dapat berupa penyimpangan bunyi bahasa untuk menciptakan efek fonetik atau irama dan rima.


Bisa juga dengan melakukan penyimpangan makna bahasa, yaitu teknik metafora.


Bentuk lainnya adalah mengubah kata benda menjadi kata kerja ataupun kata sifat.


Contoh:

Dalam karyanya, Julius Caesar, Shakespeare menulis: 

Friends, Romans, Countrymen, lend me your ears.

 

Seharusnya ada kata and setelah Roman.


Bentuk lain lisensi ini termasuk:

lisensi sastra, 

lisensi dramatis, 

lisensi historis, 

lisensi naratif, dan 

lisensi artistik.


Dalam lisensi dramatis ataupun historis, biasanya perubahan dilakukan dalam adaptasi buku menjadi film. Dalam film yang berbasis sejarah, kadang unsur sejarah disederhanakan. Bisa juga isi film melenceng dari versi buku. 


Sumber bacaan:

Kamus Istilah Sastra oleh Dwi Susanto. Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta. Cetakan I, 2015.


"What is Poetic License: Definition and Examples" oleh LISA, 22 November 2016. Situs Owlcation

https://owlcation.com/humanities/What-is-Poetic-License-Definition-and-Examples



Pengumuman


 Padamatabuku (Pada Mata Buku) sekarang punya dua blog. Satu untuk artikel kepenulisan dan yang baru untuk jadwal pelatihan. 

Alamat jadwal pelatihan: di sini

Berhubung blog masih baru, belum semua halaman rampung. Diharapkan awal bulan depan sudah 100% berfungsi.

Apa saja yang ada di sana? Tentunya jadwal kelas, topik, silabus, dan harga. Jika ingin ikut pelatihan saya, silakan komen. 

Untuk sedikit gambaran, biaya per kelas hanya Rp25.000,00. Boleh bayar lebih, asal ikhlas. Kelas dibuka 24 jam agar teman-teman yang tinggal di Indonesia Timur bisa ikut. Bisa pilih media belajarnya, mau di Facebook atau di Google Classroom. Pelatihan terdiri dari materi dan tugas.

Beberapa kelas yang sudah dibuka:

  • Ide dan Kreativitas: bagaimana cara mengumpulkan ide, contoh kasus, dan praktik
  • Paragraf Kreatif: bagaimana bekerja dan mengembangkan kata jadi kalimat atau paragraf
  • Tokoh Dasar: jenis tokoh, bagaimana cara membuat tokoh yang menarik
  • Konflik: kelas yang mempelajari berbagai jenis konflik, cara mengembangkannya, dan mengaitkan dengan tokoh.
  • Shakespeare Dasar: siapa Shakespeare, mengapa karyanya selalu didaur ulang, studi kasus beberapa drama paling terkenal.
  • POV Dasar: apa itu sudut pandang, apa arti narator, bagaimana menampilkan POV 1, POV 2, POV 3 terbatas, dan POV 3 serbatahu.

 Nah, kalau berminat silakan mengontak lewat kolom komentar, lewat halaman Kontak, Twitter (@padamatabuku), Wattpad (@sayaampas), dan halaman Facebook (@padamatabuku).

Antagonis (transkrip video)


 

(Transkrip ini disediakan untuk teman-teman yang tidak bisa mengakses Youtube.)

Antagonis berasal dari kata antagonistēs.

Artinya lawan, kompetitor, penjahat, musuh, saingan.


"Antagonistēs" adalah bahasa Yunani.

"anti-" (melawan) dan "agonizesthai" (mendapatkan hadiah).


Meski salah satu artinya adalah penjahat, tidak berarti semua antagonis jahat.


Antagonis lebih sering diartikan sebagai orang yang berlawanan dari protagonis (tokoh utama).


Baik protagonis dan antagonis bisa sama-sama orang baik.


Antagonis juga bisa bertindak sebagai rintangan bagi protagonis.


Contoh:

1. Protagonis ingin mencuri.

Antagonis menghalangi.

2. Protagonis ingin pergi ke sekolah.

Antagonis mengajaknya membolos.


Antagonis sering menjadi sumber konflik dan moral bagi protagonis.


Contoh protagonis x antagonis

Hamlet x Claudius

Nobita x Giant

Naruto x Sasuke

Tom x Jerry


Manfaatkan antagonis untuk membuat plot jadi lebih menarik.


Kamu baru saja belajar tentang antagonis. 


Kalau suka, jangan lupa subscribe, like, dan share video ini, ya.


+++

 

Teks dan musik oleh Dessy Yasmita.

Sampel musik dari Bandlab.

 


Tilik: Film yang Berbahaya

 

 

Melawan opini umum, saya merasa film Tilik membosankan. Ini contoh cerita yang terlalu mengandalkan dialog yang jadi 'tell, not show', minim konflik, hampir tidak ada progres plot, dan ada plot hole. Tentu pendapat saya bukan pendapat populer (unpopular opinion).


Sebelum sampai pada postingan ini, saya sempat mencari tahu apakah penafsiran saya soal ending benar (Dian memang 'main dengan om-om', tepatnya jadi pacar Pak Lurah). Setelah dikonfirmasi, saya berkesimpulan film ini berbahaya.

Kita balik dulu ke soal membosankan.
1. Mengandalkan dialog.
Tidak semua orang bisa seperti Tarantino. Tarantino bisa bikin dialog soal lagu Madonna (film Reservoir Dogs) dan obrolan ini gak membawa ke mana-mana selain sebuah introduksi cerita. Namun, obrolan ini menarik karena bersifat interpretasi, filsafat, dan berbenturan dengan topik lain yaitu soal ngasih tip ke pelayan dan soal daftar nama. Ada tiga hal dibicarakan secara simultan oleh sekian banyak tokoh. Meski seperti tidak punya makna, obrolan ini memberi pemahaman awal tentang beberapa tokoh dan nilai yang masing-masing mereka anut.

Film yang hanya mengandalkan dialog kalau tidak digarap dengan cermat, mudah membosankan karena biasanya bersifat telling (memberi tahu). Ini yang terjadi dengan Tilik. Semua pengetahuan kita soal Dian hanya lewat gosip. Kita mendapat gambaran karena Bu Tejo memberi tahu. Belum lagi ada 'ceramah' soal gosip tidak baik dan fitnah. Khas sinetron. Film dan buku lokal belum bisa keluar dari sifat menggurui.

Kenapa dialog-dialog film Tarantino dan film lain seperti Closer, Crash, bahkan In The Mood for Love terasa enak? Karena ada gaya film di situ. Obrolannya lancar, tapi ada kesan bahwa ini bukan obrolan yang real (misalnya ada pengulangan kata, ada pertanyaan yang dibalas pertanyaan, ada panjang pendeknya, ada tempo dan tonasi). Sementara dialog dalam Tilik masih sama dengan sinetron. Realistis. You don't get the beauty of film dialog.

Lima menit pertama, cerita Tilik masih ok. Saya langsung drop setelah adegan break di musholla (satu-satunya momen diam dan transisi dengan sinematografi yang cukup baik) mereka kembali bicara soal Dian. Pertama karena lagi-lagi mereka hanya memberi tahu. Kedua, karena memberi tahu, tidak terjadi progres. Di ending, si Bu Tejo cuma memuji-muji di depan Dian. Tidak ada konflik. Tiga puluh menit cerita tidak ada konflik.

Tadinya saya berharap bahwa obrolan Bu Tejo ingin suaminya jadi lurah bisa menimbulkan konflik. Ternyata juga tidak.

Bahkan adegan Dian dan Pak Lurah juga tidak cocok disebut konflik. Dian cuma memberi tahu tentang perasaan dan keinginannya.

2. Tidak ada plot
Perhatikan. Semua tokoh hanya MEMBERI TAHU. Namun, tidak satu orang pun maju untuk menghadapi konflik. Tidak seorang pun berani mengkonfirmasi pada Dian. Tidak ada plot utama dalam cerita ini. Semua kejadian (muntah, kebelet pipis, ditilang) hanya situasi sekunder yang kalaupun tidak terjadi, cerita tetap berjalan. Mereka tetap akan sampai ke rumah sakit, Bu Lurah tetap di ICU, dan tidak seorang pun akan mengkonfrontasi Dian.

3. Tokoh flat
Kenapa tidak ada konflik? Karena tokohnya tidak digarap. Semua tokoh tetap dengan pendirian masing-masing. Tidak seorang pun mengalami perubahan jadi lebih baik ataupun lebih buruk.

Bandingkan dengan sebuah film pendek (saya lupa judulnya) bergaya Orwellian. Di sebuah sekolah seorang guru berkata 2+2=5. Mulanya anak-anak menolak. Setelah ketua OSIS dan jajaran otoriternya masuk dan membunuh satu murid, baru kelas itu menerima 5 sebagai jawaban. Namun, ada satu anak yang sudah menulis 5 di bukunya, tertegun, lalu menggantinya jadi 4. Lihat bahwa dengan sinopsis sependek ini saya bisa memperlihatkan konflik dan bagaimana satu tokohnya dinamis (mengalami perubahan).

4. Pesan moral bermasalah
Kalau melihat ending-nya, saya menangkap pesan moralnya begini: bergosip itu baik dan terbukti benar.
Ada kesan penulis skenario berusaha membuat plot twist, tetapi saya tidak melihat ini plot twist. Saya lebih melihat ending-nya sebagai konfirmasi semua perkataan Bu Tejo benar. Padahal penonton tahu cara Bu Tejo salah. Namun, dengan ending seperti ini, tentu penonton dipaksa menerima 'kenyataan'.

Yang berbahaya sih, kalau penontonnya dari grassroot sampai menengah, ya. Film alat propaganda yang mudah dicerna karena ada bahasa visual dan audio. Karena ending-nya seperti ini, bagi kalangan tersebut bisa diartikan bahwa gosip itu baik dan informasi dari internet lebih banyak yang benar, jadi tidak perlu disaring. Kesimpulan ini malah jadi berlawanan dengan usaha di awal cerita bahwa gosip itu buruk dan informasi perlu disaring.

Sejujurnya, cerita ini cukup 10 menit dengan catatan ending harus berbeda. Saya setuju film ini memperlihatkan watak orang Indonesia yang tukang gosip. Namun, saya tidak setuju dengan epilog film ini.  Sebagai penonton saya merasa dibodohi.

'di' dan 'ke' (bagian 2)



Halo sobat buku,
Hari ini saya bicara lagi soal 'di' dan 'ke'. Aduh, yang satu ini kok memprihatinkan. Masih banyak yang salah dalam menulis, yang seharusnya dipisah malah digabung, yang harusnya digabung malah dipisah. Cermati rangkuman di bawah, ya.

'di' harus disambung dengan KATA KERJA untuk membentuk kata kerja pasif.
Rumus: di + kata kerja = kata kerja pasif
Contoh: di + makan = dimakan

Contoh lain:
diselingi (dilekatkan pada kata kerja berimbuhan di akhir)
dipertanggungjawabkan (dilekatkan pada kata kerja dengan imbuhan di awal dan di akhir)

'di' TIDAK BOLEH dilekatkan pada kata tunjuk tempat dan nama tempat.
Contoh:
disana ❌ di sana✅
dimana❌ di mana ✅
disudut jalan❌ di sudut jalan ✅
dijakarta ❌ di Jakarta ✅
diPalembang ❌ di Palembang ✅
diruang itu ❌ di ruang itu ✅

'ke' TIDAK BOLEH dilekatkan pada kata tunjuk tempat dan nama tempat.
Contoh:
kesana ❌ ke sana✅
kemana❌ ke mana ✅
kesudut jalan❌ ke sudut jalan ✅
kejakarta ❌ ke Jakarta ✅
kePalembang ❌ ke Palembang ✅
keruang itu ❌ ke ruang itu ✅

KECUALI
'kemari'.
Ini satu kata, ya.
Contoh: Dia berjalan ke sana kemari. ✅

Bagaimana membedakan 'keluar' dan 'ke luar'?
'keluar' adalah kata kerja.
Contoh: Hasil ujian keluar besok. ✅

'ke luar' menunjukkan tempat.
Contoh: Mereka melarikan diri ke luar negeri. ✅
'melarikan' adalah kata kerja. 'ke luar negeri' adalah frasa keterangan tempat.
Contoh lain: Agar bisa merokok, dia pergi ke luar. ✅
'pergi' adalah kata kerja merangkap predikat. 'ke luar' menunjukkan keterangan tempat.

Jelas, ya?
Tolong. Tolong banget deh, mulai sekarang hapalkan cara penulisan 'di' dan 'ke' yang benar.

Semoga sukses menulis!

Plot Twist: In Medias Res




In medias res adalah bahasa Latin yang artinya di tengah sesuatu. Dalam karya fiksi, termasuk puisi, istilah ini menggambarkan narasi yang langsung masuk ke tengah situasi kritis yang merupakan bagian dari deretan kejadian dan nantinya akan dikembangkan. Dalam bahasa yang lebih ringkas, cerita 'dimulai' dari pertengahan yaitu pada sebuah kejadian penting, baru kemudian mulai dari awal. Setelah dimulai di tengah, penulis kemudian bebas untuk menceritakan keseluruhan cerita dari awal atau menggunakan flashback.

Fungsi

In medias res, untuk saya, memaksa pembaca atau penonton untuk segera waspada bahwa cerita berada di titik kritis. Menurut Literary Devices, pembaca juga akan dipaksa untuk bertanya-tanya pada si pengarang, dalam artian bertanya-tanya apa yang terjadi dalam cerita. Hal ini memaksa pembaca atau penonton mempertanyakan segala aspek dan kejadian dalam cerita tersebut.

Ciri

Selain dimulai di tengah atau menjelang akhir cerita, tvtropes juga melihat in medias res biasanya melibatkan tokoh berada dalam situasi hidup dan mati. Meski, biasanya masih hidup.

Contoh

Contoh tertua dari penggunaan in medias res adalah The Illiad oleh Homer.

Dari dunia anime, Psycho-Pass dimulai dengan adegan perkelahian antara Shinya dan Makishima. Setelah itu cerita berjalan normal dari awal sampai akhirnya kita kembali menemukan adegan pertarungan itu. Pada Naruto Shippuuden, lima menit adegan pembuka, baru akan ditampilkan lagi setelah 40 episode.

Serial buku Twilight (Stephenie Meyer) selalu dibuka dengan teknik in medias res.

Video game Warriors Orochi, Persona 5, dan beberapa serial Final Fantasy juga memakai teknik ini (FF VII, X, XIII, XV)

Serial televisi seperti Breaking Bad memulai sekian menit cerita pada adegan yang menegangkan, membuat penonton bertanya-tanya, dan sulit meninggalkan kursi sebelum cerita flashback.

Untuk film, sutradara Christopher Nolan sering menggunakan teknik ini. Misalnya dalam Batman Begins, The Prestige, dan Inception

Narasumber "In medias res" oleh the Editors of Encyclopaedia Britannica
https://www.britannica.com/art/prequel
(Diakses tanggal 28 April 2020)

"In medias res" oleh Literary Devices
https://literarydevices.net/in-medias-res/
(Diakses tanggal 28 April 2020)

"In medias res" oleh tvtropes
https://tvtropes.org/pmwiki/pmwiki.php/Main/InMediasRes
(Diakses tanggal 28 April 2020)

"Plot twist" oleh Wikipedia
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Plot_twist
(Diakses tanggal 27 April 2020)

Plot Twist: False Protagonist (Protagonis Palsu)




Artikel ini mengandung spoiler (beberan)

False Protagonist atau kadang disebut decoy protagonist (Protagonis Palsu) adalah salah satu teknik plot twist yang cukup sering dipakai. Di sini, tokoh dibuat seolah-olah sebagai tokoh utama pada awal cerita, tetapi kemudian posisinya digantikan oleh tokoh lain. 

Apa manfaat menggunakan teknik ini? Teknik ini dipakai untuk membuat cerita lebih dikenang karena membuat pembaca atau penonton percaya bahwa tokoh tersebut tokoh utama, tetapi ternyata bukan.

Menampilkan protagonis atau tokoh utama palsu ini bisa dengan bermacam cara. 
A. Yang paling sering dipakai adalah dengan membunuh si tokoh. Misalnya dalam "Game of Thrones" musim pertama, penonton diyakinkan bahwa Ned Stark adalah tokoh utama cerita. Kematiannya pada episode terakhir membuat penonton terkejut dan menduga-duga siapa sebenarnya tokoh utama dari keluarga Stark. Dalam film "The Godfather", Vito Corleone adalah pemimpin keluarga dan menjadi pusat cerita sebelum ia sakit dan meninggal. Tokoh utama kemudian diganti oleh anaknya, Michael.

B. Masih dengan membunuh si tokoh, tetapi dengan memanfaatkan aktor ternama setelah muncul 5—15 menit. Tentu saja ini lebih cocok ke dalam produksi film. Contohnya, dalam film "Scream", aktris Drew Barrymore hanya bermain selama 15 menit. Namun, dalam promosi film, ia ditampilkan paling menonjol. Film lain yang menggunakan teknik ini adalah "Children of Men". Tokoh Julian yang diperankan Julianne Moore tampak sangat menjanjikan. Penonton akan berharap bahwa tokoh ini menjadi protagonis kedua dalam film. Apalagi dalam cerita, Julian adalah mantan istri tokoh utama. Saya tidak ingat tepatnya, tetapi tokoh Julian tewas dalam waktu 15—30 menit setelah tampil.

C. Menggeser tokoh yang tadinya protagonis menjadi antagonis. Dalam "Aladdin", cerita dibuka oleh sang penyihir yang melakukan perjalanan sulit dari Moroko ke Cina demi mendapatkan lampu ajaib. Sudut pandang ini baru diubah setelah ia membiarkan Aladdin terjebak di dalam gua. Cerita pun sekarang berasal dari Aladdin dan menjadikan si penyihir sebagai antagonis.

D. Menggeser tokoh utama pelan-pelan. Yang ini agak jarang karena tokoh utama dan tokoh pengganti biasanya sama-sama protagonis. Dalam serial anime "Psycho-Pass", tokoh Shinya yang tadinya menjadi sorotan, perlahan-lahan digantikan oleh Akane.  

Narasumber

"Decoy Protagonist" oleh tv tropes
https://tvtropes.org/pmwiki/pmwiki.php/Main/DecoyProtagonist
(Diakses tanggal 25 April 2020)

"False Protagonist", Wikipedia.
https://en.m.wikipedia.org/wiki/False_protagonist
(Diakses tanggal 25 April 2020)

"Plot twist" oleh Wikipedia
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Plot_twist
(Diakses tanggal 25 April 2020)

Pencarian Artikel

Entri yang Diunggulkan

Samurai Seven: Siapa Pemenang Sebenarnya

Inilah salah satu cerita terbaik yang pernah saya tonton. Baik versi asli maupun anime sangat menarik. Seven Samurai (1954) memiliki be...

Artikel Terpopuler Minggu Ini